MAJALAH SASTRA
Majalah Karya Sastra Berisi Rubrik CERPEN,CERBUNG,PUISI,TEORI SASTRA,TOKOH SASTRA
Senin, 08 November 2010
BEASISWA MENULIS FLP JAWA BARAT
Dalam pelatihan menulis banyak sekali bekal yang saya dapatkan. Pertama, menulis itu bukan kuantitas tapi kualitas. Cukuplah satu buku tapi berkualitas daripada banyak buku tapi tidak berkualitas. Berkualitas itu maksudnya bahwa buku itu memenuhi unsur-unsur yang baik dalam menulis. Sebagai penulis bukan hanya tugasnya menulis tapi juga menciptakan buku. Seorang penulis harus bawel mengenai desain, tata letak, cover dan lain-lain. Serta tokoh dalam cerita itu seolah-olah nyata dan pastikan nyata walau fiksi. Selamat menulis!
Jumat, 29 Oktober 2010
PUISI
SI HUJAN
Oleh : Elan Suherlan
Bergemuruh jagat raya
Merobek gendang telinga
Akulah Si Hujan
Turunlah aku bergembira ria
laksana para kurcaci dan bidadari turun dari surga
dengarkanlah
tangisan anak manusia
ditimpa duka nestapa
bencana melanda
tsunami di Kepulauan Mentawai
Banjir di Jakarta
Longsor di Wasior
dan terakhir Gunung Meletus di Merapi
Semua itu aku berperan
Wahai manusia!
Akulah ancamanmu
bukan rahmatmu
PRAY FOR INDONESIA
Oleh : Elan Suherlan
Bergemuruh jagat raya
Merobek gendang telinga
Akulah Si Hujan
Turunlah aku bergembira ria
laksana para kurcaci dan bidadari turun dari surga
dengarkanlah
tangisan anak manusia
ditimpa duka nestapa
bencana melanda
tsunami di Kepulauan Mentawai
Banjir di Jakarta
Longsor di Wasior
dan terakhir Gunung Meletus di Merapi
Semua itu aku berperan
Wahai manusia!
Akulah ancamanmu
bukan rahmatmu
PRAY FOR INDONESIA
TALAS
TALAS
Oleh : Elan Suherlan,SHI
Semenjak ibu dan ayah memutuskan untuk pensiun, dimana ayah pensiun sebagaimana mestinya dari PNS ABRI dan ibu memutuskan pensiun dini dari perawat RS Mata Cicendo karena beban tekanan pekerjaan yang diterimanya sangat berat seakan bertubi-tubi maka keadaan rumah di Cimahi terasa kosong molompong. Bukan karena tidak adanya orang, melainkan karena tidak adanya dua orang motor dalam keluarga yakni ayah dan terutama ibu. Beliau membiayai semua keperluan anggota keluarga. Kini Ayah dan ibu lebih banyak menghabiskan hidup di pedesaan yakni di Kampung Cimuncang Desa Mulya Mekar kabupaten Sumedang.
Hari ke hari hingga minggu ke minggu hingga bulan ke bulan rumah yang ada di Cimahi hanya ditinggali oleh adikku, Yani, kakakku Siti dan suaminya. Sehari-hari adikku bekerja di Apotik IMC dan Pabrik Sanbe Farma sebagai Asisten Apoteker ia jarang pulang karena ia seorang yang gila kerja dan wanita karir, lalu suaminya bekerja pula karena seorang guru, praktis kakakku tinggal sendirian di dalam rumah hingga kadang berhari-hari sendirian. Hal ini karena adikku selalu kerja lembur dan suaminya jarang pulang.
Kakakku selalu pergi ke tetangga bernama Ibu Uci yang juga membuka warung.
"Wah, mamah Opi abdi mah sorangan wae saentos mamah jeung bapak ka Sumedang!" ucap kakakku berurai airmata.
"Memang Yani kemana ? Kan juga ada suami!" ucap Ibu Uci sambil duduk di depan warung.
"Iya Yani sekarang lembur terus karena ada karyawan yang tidak masuk-masuk hingga ia harus menggantikan posisi kehadirannya."
"Oh, karunya teuing!"
"Ari suami setia kemana?"
"Ah, biasa ayeuna nuju sibuk! Nuju ujian sertifikasi guru! Jadi di Cirata terus."
"Jadi eta kasepian teh, sabar kan eteh mah wanita solehah!" ujar Ibu Uci sambil tersenyum manis.
"Ah, mamah Opi tiasa weh!"
"Leres eteh mah wanita solehah!"
"Nah, supaya teu sepi, ku abdi bade di kontrakkeun bumi teh, da aya opat kamar anu kosong!"
"Leres teh bade di kontrakkeun?" Ibu Uci keheranan setengah tak percaya.
"Leres!"
"Ke atuh sakedap deui aya anu bade ka dieu, anu naros-naros kontrakkan!"
"Nah, lelaki itu datang!" gumam ibu Uci.
"Beli terigu setengah!" ucap seorang pria setengah baya berkulit hitam legam berlogat jawa memasuki warung.
"Oh, sebentar" Bu Uci mengambil terigu dalam karung.
"Nih!" ucap Bu Uci sambil mengambil kertas dalam genggaman pria itu.
"Bapak keluarganya Yuda ya?" tanya Ibu Uci dengan mata mendelik.
"Iya Bu. Bu di sini ada kontrakkan tidak?"tanya pria itu melirik ke dalam ruangan belakang warung.
"Ada, nah itu yang punyanya!" tunjuk Bu Uci pada kakakku.
"Teh Sini! Ini ada yang mau ngontrak!" teriak Bu Uci.
Kakakku segera menghampiri lalu berdiri di samping Ibu Uci.
"Teteh mau mengontrakkan rumah dimana?" pria itu berucap.
"Di sini! Nih sebelah warung sini!"
"Saya mau ngontrak! bisa ya?!"
"Sebentar! saya belum mengontak ayah dan ibu!"
"Kontak saja sekarang!" timpal Ibu Uci.
"Iya. Hallo! Mah, rumah dikontrakkan jangan? nih ada yang mau ngontrak!?"
"Jangan! buat apa dikontrakkan?! malah tambah kotor dan semrawut! Ingat jangan ya?!"
"Tapi ini ada yang mau ngontrak!!!"
"Iya jangan! kasih saja alasan tidak dikontrakkan!"
"Iya..."
Tutt.
"Bagaimana Teh?" tanya Ibu Uci.
"Maaf tidak jadi dikontrakkan!"
Pria itu terkaget. "Iya sudah!' ujar pria itu meninggalkan kakakku dan Ibu Uci dengan perasaan kesal.
Ibu Uci terheran-heran. "Kan tadi mau dikontrakkan!"
"Tidak diijinkan oleh ibu dan ayah!" timpal kakakku sambil meninggalkan Ibu Uci.
"Baru saja ngetes, eh banyak yang ngontrak!" kakakku meng-SMS pada ibu di Sumedang.
"Memang rumah di kota menjadi sangat berharga dan pundi-pundi dolar!!!" SMS balasan dari ibu.
"Teh, Alan berangkat ke Sumedang!" aku menyalakan mesin motor.
"Iya hati-hati!"
Lima jam kemudian, aku tiba di kampung Cimuncang Sumedang.
"Hei Mang Alan!" teriak Rido.
"Ma Enin ke mana?"
"Itu di kebon ngala taleus!" ucap Rido polos. Bocah kecil ini mengikuti terus.
Aku memarkirkan motor di halaman lalu masuk ke dalam rumah.
"Heh Lan sudah datang lagi! kapan ke sininya?" tanya bapakku sambil menjinjing beberapa buah talas.
"Barusan."
"Hah Lan, ini mamah lapar! Ayo makan talas!" timpal ibuku sambil mencuci tangan di air pancuran.
"Asyik talas!" teriak Rido riang gembira.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucu anak kecil itu.
Ibuku memasukkan talas itu pada tungku air yang panas. Satu jam kemudian, beliau mengangkat talas-talas itu.
"Sudah masak!" ucap ibu pada ayah.
Ibu memungut satu persatu talas dari tungku dibantu oleh Rido. Setelah selesai ibuku memakan talas itu bersama ayah dalam keadaan panas.
"Enak ma enin?" tanya Rido melongo keheranan.
"Enak!"
Rido tergiur dan memakan talas itu. "Panas!" teriak Rido sambil memuntahkan kembali talas dalam mulutnya.
Kakek masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Mana talas teh!?"
"Ieu!" tunjuk Rido pada talas-talas yang berada di dalam piring besar.
Kakek mengambil talas itu dan memakannya. "Wah enak!" ujarnya.
Setelah memakan talas-talas itu tanpa tersisa, ibu dan ayah pun tiba-tiba mengantuk lalu bergegas tidur di kamar tidur.
Dua jam kemudian. Ayah dan ibu terbangun dari tidur.
"Aduh!" jerit ibu.
Aku melongo ke kamar tidur.
"Aduh sakit!" teriak ibu memegang kaki.
"Aduh bapa juga sakit!" ucap ayah memegang kaki juga.
"Kenapa pada sakit?" tanyaku heran.
"Entahlah!" ucap ayah dan ibu.
"Cepat panggil dokter Mela!" ujar ibu.
Beliau menelepon Bu Mela. Satu jam kemudian, Ibu Mela datang ke rumah.
"Ada apa Bi?"
"Ini sakit kaki! kenapa ya? padahal hari-hari sebelumnya tidak?"
"Kalau bapak?"
"Iya saya juga sakit kaki!" ujar ayah.
"Mana biar saya periksa!" Ibu Mela mengeluarkan stetoskop. Lalu, ia menyentuh urat-urat yang keluar dari kaki ayah dan ibu.
"Kenapa dok?" tanya Ibu heran.
"Ibu dan bapak tadi makan apa?"
"Makan talas!"
"Nah talaslah yang menyebabkan kaki kalian sakit!"
"Apa?" ibu dan ayah terkaget.
"Kalau punya penyakit asam urat jangan makan yang akarnya dibawah seperti talas, singkong, ubi, dan lain-lain! Itu pantangan" jelas Ibu Mela. "Kalau makan maka akan timbul penyakit rematik!"
"Oh pantesan!"
"Kakek juga sakit kaki." ujar kakek meringis kesakitan.
Kami hanya terkejut.
Sejak saat itu, ibu dan ayah membuang talas-talas yang belum dimasaknya. Dan sejak itu pula, beliau tidak pernah makan talas, atau umbi-umbian yang akar dan buahnya berada di bawah karena itu pantangan mereka. Sejak saat itu pula, mereka dalam keadaan sehat walaupun dalam keadaan punya penyakit asam urat. Beliau selalu meminum jamu asam urat.
"Mamah si eteh sakit! rumah seperti kapal pecah! cepat pulang!" adikku menelepon.
"Iya nanti mamah pulang!"
Tut.
"Saya ikut!" teriakku.
Oleh : Elan Suherlan,SHI
Semenjak ibu dan ayah memutuskan untuk pensiun, dimana ayah pensiun sebagaimana mestinya dari PNS ABRI dan ibu memutuskan pensiun dini dari perawat RS Mata Cicendo karena beban tekanan pekerjaan yang diterimanya sangat berat seakan bertubi-tubi maka keadaan rumah di Cimahi terasa kosong molompong. Bukan karena tidak adanya orang, melainkan karena tidak adanya dua orang motor dalam keluarga yakni ayah dan terutama ibu. Beliau membiayai semua keperluan anggota keluarga. Kini Ayah dan ibu lebih banyak menghabiskan hidup di pedesaan yakni di Kampung Cimuncang Desa Mulya Mekar kabupaten Sumedang.
Hari ke hari hingga minggu ke minggu hingga bulan ke bulan rumah yang ada di Cimahi hanya ditinggali oleh adikku, Yani, kakakku Siti dan suaminya. Sehari-hari adikku bekerja di Apotik IMC dan Pabrik Sanbe Farma sebagai Asisten Apoteker ia jarang pulang karena ia seorang yang gila kerja dan wanita karir, lalu suaminya bekerja pula karena seorang guru, praktis kakakku tinggal sendirian di dalam rumah hingga kadang berhari-hari sendirian. Hal ini karena adikku selalu kerja lembur dan suaminya jarang pulang.
Kakakku selalu pergi ke tetangga bernama Ibu Uci yang juga membuka warung.
"Wah, mamah Opi abdi mah sorangan wae saentos mamah jeung bapak ka Sumedang!" ucap kakakku berurai airmata.
"Memang Yani kemana ? Kan juga ada suami!" ucap Ibu Uci sambil duduk di depan warung.
"Iya Yani sekarang lembur terus karena ada karyawan yang tidak masuk-masuk hingga ia harus menggantikan posisi kehadirannya."
"Oh, karunya teuing!"
"Ari suami setia kemana?"
"Ah, biasa ayeuna nuju sibuk! Nuju ujian sertifikasi guru! Jadi di Cirata terus."
"Jadi eta kasepian teh, sabar kan eteh mah wanita solehah!" ujar Ibu Uci sambil tersenyum manis.
"Ah, mamah Opi tiasa weh!"
"Leres eteh mah wanita solehah!"
"Nah, supaya teu sepi, ku abdi bade di kontrakkeun bumi teh, da aya opat kamar anu kosong!"
"Leres teh bade di kontrakkeun?" Ibu Uci keheranan setengah tak percaya.
"Leres!"
"Ke atuh sakedap deui aya anu bade ka dieu, anu naros-naros kontrakkan!"
"Nah, lelaki itu datang!" gumam ibu Uci.
"Beli terigu setengah!" ucap seorang pria setengah baya berkulit hitam legam berlogat jawa memasuki warung.
"Oh, sebentar" Bu Uci mengambil terigu dalam karung.
"Nih!" ucap Bu Uci sambil mengambil kertas dalam genggaman pria itu.
"Bapak keluarganya Yuda ya?" tanya Ibu Uci dengan mata mendelik.
"Iya Bu. Bu di sini ada kontrakkan tidak?"tanya pria itu melirik ke dalam ruangan belakang warung.
"Ada, nah itu yang punyanya!" tunjuk Bu Uci pada kakakku.
"Teh Sini! Ini ada yang mau ngontrak!" teriak Bu Uci.
Kakakku segera menghampiri lalu berdiri di samping Ibu Uci.
"Teteh mau mengontrakkan rumah dimana?" pria itu berucap.
"Di sini! Nih sebelah warung sini!"
"Saya mau ngontrak! bisa ya?!"
"Sebentar! saya belum mengontak ayah dan ibu!"
"Kontak saja sekarang!" timpal Ibu Uci.
"Iya. Hallo! Mah, rumah dikontrakkan jangan? nih ada yang mau ngontrak!?"
"Jangan! buat apa dikontrakkan?! malah tambah kotor dan semrawut! Ingat jangan ya?!"
"Tapi ini ada yang mau ngontrak!!!"
"Iya jangan! kasih saja alasan tidak dikontrakkan!"
"Iya..."
Tutt.
"Bagaimana Teh?" tanya Ibu Uci.
"Maaf tidak jadi dikontrakkan!"
Pria itu terkaget. "Iya sudah!' ujar pria itu meninggalkan kakakku dan Ibu Uci dengan perasaan kesal.
Ibu Uci terheran-heran. "Kan tadi mau dikontrakkan!"
"Tidak diijinkan oleh ibu dan ayah!" timpal kakakku sambil meninggalkan Ibu Uci.
"Baru saja ngetes, eh banyak yang ngontrak!" kakakku meng-SMS pada ibu di Sumedang.
"Memang rumah di kota menjadi sangat berharga dan pundi-pundi dolar!!!" SMS balasan dari ibu.
"Teh, Alan berangkat ke Sumedang!" aku menyalakan mesin motor.
"Iya hati-hati!"
Lima jam kemudian, aku tiba di kampung Cimuncang Sumedang.
"Hei Mang Alan!" teriak Rido.
"Ma Enin ke mana?"
"Itu di kebon ngala taleus!" ucap Rido polos. Bocah kecil ini mengikuti terus.
Aku memarkirkan motor di halaman lalu masuk ke dalam rumah.
"Heh Lan sudah datang lagi! kapan ke sininya?" tanya bapakku sambil menjinjing beberapa buah talas.
"Barusan."
"Hah Lan, ini mamah lapar! Ayo makan talas!" timpal ibuku sambil mencuci tangan di air pancuran.
"Asyik talas!" teriak Rido riang gembira.
Aku hanya tersenyum melihat tingkah lucu anak kecil itu.
Ibuku memasukkan talas itu pada tungku air yang panas. Satu jam kemudian, beliau mengangkat talas-talas itu.
"Sudah masak!" ucap ibu pada ayah.
Ibu memungut satu persatu talas dari tungku dibantu oleh Rido. Setelah selesai ibuku memakan talas itu bersama ayah dalam keadaan panas.
"Enak ma enin?" tanya Rido melongo keheranan.
"Enak!"
Rido tergiur dan memakan talas itu. "Panas!" teriak Rido sambil memuntahkan kembali talas dalam mulutnya.
Kakek masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Mana talas teh!?"
"Ieu!" tunjuk Rido pada talas-talas yang berada di dalam piring besar.
Kakek mengambil talas itu dan memakannya. "Wah enak!" ujarnya.
Setelah memakan talas-talas itu tanpa tersisa, ibu dan ayah pun tiba-tiba mengantuk lalu bergegas tidur di kamar tidur.
Dua jam kemudian. Ayah dan ibu terbangun dari tidur.
"Aduh!" jerit ibu.
Aku melongo ke kamar tidur.
"Aduh sakit!" teriak ibu memegang kaki.
"Aduh bapa juga sakit!" ucap ayah memegang kaki juga.
"Kenapa pada sakit?" tanyaku heran.
"Entahlah!" ucap ayah dan ibu.
"Cepat panggil dokter Mela!" ujar ibu.
Beliau menelepon Bu Mela. Satu jam kemudian, Ibu Mela datang ke rumah.
"Ada apa Bi?"
"Ini sakit kaki! kenapa ya? padahal hari-hari sebelumnya tidak?"
"Kalau bapak?"
"Iya saya juga sakit kaki!" ujar ayah.
"Mana biar saya periksa!" Ibu Mela mengeluarkan stetoskop. Lalu, ia menyentuh urat-urat yang keluar dari kaki ayah dan ibu.
"Kenapa dok?" tanya Ibu heran.
"Ibu dan bapak tadi makan apa?"
"Makan talas!"
"Nah talaslah yang menyebabkan kaki kalian sakit!"
"Apa?" ibu dan ayah terkaget.
"Kalau punya penyakit asam urat jangan makan yang akarnya dibawah seperti talas, singkong, ubi, dan lain-lain! Itu pantangan" jelas Ibu Mela. "Kalau makan maka akan timbul penyakit rematik!"
"Oh pantesan!"
"Kakek juga sakit kaki." ujar kakek meringis kesakitan.
Kami hanya terkejut.
Sejak saat itu, ibu dan ayah membuang talas-talas yang belum dimasaknya. Dan sejak itu pula, beliau tidak pernah makan talas, atau umbi-umbian yang akar dan buahnya berada di bawah karena itu pantangan mereka. Sejak saat itu pula, mereka dalam keadaan sehat walaupun dalam keadaan punya penyakit asam urat. Beliau selalu meminum jamu asam urat.
"Mamah si eteh sakit! rumah seperti kapal pecah! cepat pulang!" adikku menelepon.
"Iya nanti mamah pulang!"
Tut.
"Saya ikut!" teriakku.
Minggu, 26 September 2010
DISKUSI : PUASA PUISI & POLUSI
PUASA,PUISI & POLUSI
Pada Diskusi Sastra, kamisan minggu lalu mengambil tema Puasa, Puisi dan Polusi di selasar timur masjid Salman ITB, acara berlangsung seru. Menurut pemateri, Banyak penulis yang mengikuti trend pasar sastra. Seperti tatkala booming novel Ayat-Ayat Cinta, maka diikuti dengan novel Dzikir-Dzikir Cinta, langit-Langit Cinta, dan lain-lain. Padahal menurut pemateri, Novel Ayat-Ayat Cinta gagal dari segi estetik sehingga jangan diikuti oleh para penulis lain. Rupanya, penulis Indonesia demam latah, atau dapat dikatakan lebih mencintai popularitas dan keternaran dibanding membuat mahakarya adiluhung. Dalam membuat karya sastra kita mesti puasa untuk mengikuti hawa nafsu mendapat materi atau ketenaran. Karena membuat sastra demi ketenaran dan materi hanya mengakibatkan polusi dalam dunia sastra Indonesia. Dengan demikian dapat terjatuh pada karya sastra yang murahan seperti sekarang ini. Kita harus terus berpuisi mencipta karya sastra, dengan cara puasa sehingga tanpa polusi hati.
Pendapat Majalah Sastra adalah setiap karya sastra tidak ada yang sempurna seperti novel Ayat-Ayat Cinta. Majalah Sastra telah membaca Novel tersebut. Memang di awal bab ada kejenuhan saat membaca. Ini berarti memang novel Ayat-Ayat Cinta gagal secara estetika. Kalau belum membaca novel ini silahkan download format Pdf di sebelah kanan halaman ini. Kita kembali lagi ke topic novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta. Novel tersebut gagal secara estetika tapi berhasil dalam segi dakwah dan pemasaran. Jadi dari segi negative ada positifnya. Kemudian novel tersebut diikuti novel-novel lainnya yang disertai Cinta. Jadi jangan memvonis suatu novel dari kekurangan tapi lihat juga kelebihannya juga, seperti kontribusi dan manfaat bagi masyarakat atau dakwah yang semakin meluas,dll. Mengkritik itu mudah. Dan saya sangat menghargai novel Ayat-Ayat Cinta yang bermanfaat dalam segi dakwah, mengenai keteguhan hati Fachri, walaupun ada yang lebih bermanfaat daripada itu. Standar masing-masing orang berbeda-beda, tergantung pengalaman dan latar belakang.
Kalau di Indonesia, novel yang sempurna belum ada. Nah, sekarang saatnya kita membuat karya sastra berstandar tinggi sesuai keinginan pemateri, yakni jauh dari iming-iming popularitas dan materi. Karena kalau sesuatu sudah diiming-imingi duniawi maka karya sastranya akan terasa dangkal dan hambar. Akan tetapi, jika karya sastra itu dibuat menurut hati nurani kita maka akan tercapailah karya sastra bernilai tinggi. Percayalah!!! Dalam sebuah tayangan iklan di televisi MetroTV Andrea Hirata berkata,"Wahai anak-anak muda indonesia mana karya sastra kalian yang bermutu?"
Pada Diskusi Sastra, kamisan minggu lalu mengambil tema Puasa, Puisi dan Polusi di selasar timur masjid Salman ITB, acara berlangsung seru. Menurut pemateri, Banyak penulis yang mengikuti trend pasar sastra. Seperti tatkala booming novel Ayat-Ayat Cinta, maka diikuti dengan novel Dzikir-Dzikir Cinta, langit-Langit Cinta, dan lain-lain. Padahal menurut pemateri, Novel Ayat-Ayat Cinta gagal dari segi estetik sehingga jangan diikuti oleh para penulis lain. Rupanya, penulis Indonesia demam latah, atau dapat dikatakan lebih mencintai popularitas dan keternaran dibanding membuat mahakarya adiluhung. Dalam membuat karya sastra kita mesti puasa untuk mengikuti hawa nafsu mendapat materi atau ketenaran. Karena membuat sastra demi ketenaran dan materi hanya mengakibatkan polusi dalam dunia sastra Indonesia. Dengan demikian dapat terjatuh pada karya sastra yang murahan seperti sekarang ini. Kita harus terus berpuisi mencipta karya sastra, dengan cara puasa sehingga tanpa polusi hati.
Pendapat Majalah Sastra adalah setiap karya sastra tidak ada yang sempurna seperti novel Ayat-Ayat Cinta. Majalah Sastra telah membaca Novel tersebut. Memang di awal bab ada kejenuhan saat membaca. Ini berarti memang novel Ayat-Ayat Cinta gagal secara estetika. Kalau belum membaca novel ini silahkan download format Pdf di sebelah kanan halaman ini. Kita kembali lagi ke topic novel fenomenal Ayat-Ayat Cinta. Novel tersebut gagal secara estetika tapi berhasil dalam segi dakwah dan pemasaran. Jadi dari segi negative ada positifnya. Kemudian novel tersebut diikuti novel-novel lainnya yang disertai Cinta. Jadi jangan memvonis suatu novel dari kekurangan tapi lihat juga kelebihannya juga, seperti kontribusi dan manfaat bagi masyarakat atau dakwah yang semakin meluas,dll. Mengkritik itu mudah. Dan saya sangat menghargai novel Ayat-Ayat Cinta yang bermanfaat dalam segi dakwah, mengenai keteguhan hati Fachri, walaupun ada yang lebih bermanfaat daripada itu. Standar masing-masing orang berbeda-beda, tergantung pengalaman dan latar belakang.
Kalau di Indonesia, novel yang sempurna belum ada. Nah, sekarang saatnya kita membuat karya sastra berstandar tinggi sesuai keinginan pemateri, yakni jauh dari iming-iming popularitas dan materi. Karena kalau sesuatu sudah diiming-imingi duniawi maka karya sastranya akan terasa dangkal dan hambar. Akan tetapi, jika karya sastra itu dibuat menurut hati nurani kita maka akan tercapailah karya sastra bernilai tinggi. Percayalah!!! Dalam sebuah tayangan iklan di televisi MetroTV Andrea Hirata berkata,"Wahai anak-anak muda indonesia mana karya sastra kalian yang bermutu?"
Minggu, 29 Agustus 2010
YUWIE
Apa itu YUWIE
Anda kenal jaringan pertemanan yang sering digandrungi banyak orang, seperti Friendster,mySpace, Facebook, Multiply dll. Pasti anda mengenalnya dan mungkin telah bertahun-tahun menjadi salah satu aktivitas anda ketika menggunakan internet. Sekarang bagaimana jika aktivitas pertemanan itu dibayar dengan beberapa dolar, ratusan dan bahkan ribuan dolar. Just Say Waww….bukan. Tidak ada yang menolak jika aktivitas paling mengasyikan ini memberikan komisi setiap membernya. Adalah yuwie, sebuah situs pertemanan seperti halnya situs pertemanan yang lain, dalam situs tersebut tidak jauh berbeda dengan model situs pertemanan yang lain. Hanya saja yuwie dalam TOS(Term of Service)nya yuwie menghimbau untuk memakai bahasa Inggris dalam melakukan aktivitas di dalamnya, tapi bisa juga dong bahasa indonesia. Seperti halnya kirim messages, comment dll. Bedanya dengan situs pertemanan yang lain adalah Yuwie membayar semua membernya dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh membernya. Dapet Temen, Dapet Dollar...!! he...buruan daftar segera : http://r.yuwie.com/alansuhe/
Bagaimana Sistem kerjanya
Ini bukan kerja, namun hoby yang dibayar. Sistemnya sama seperti halnya FS,Facebook dan lain –lain, yaitu kita log in, edite profile, ganti tema, lihat profile orang lain, add teman, di add orang lain, kirim komentar, dikirimi komentar, upload foto. Apapun itu kegiatan anda didalam Yuwie akan dihitung komisinya oleh Yuwie.
Kenapa Yuwie Membayar
Bagi yang sudah ikutan yuwie pasti tahu kenapa yuwie bisa membayar. Yaitu iklan dipasang pada setiap halaman yuwie. Hampir setiap kita mengklik halaman apapun diyuwie pasti didahului dengan tampilnya iklan yang menawarkan produk kepada kita dan diminta untuk mengisi form jika berkenan(tinggal skip saja jika anda tidak tertarik dan urusan selesai).
Jadi logikanya yuwie dibayar oleh pemasang iklan, dan kemudian yuwie bisa membayar membernya karena telah melihat halaman iklan tersebut pada setiap kali melakukan aktivitasnya.
Berapa Komisinya
Yuwie membayar membernya setiap kali buka halaman yaitu dengan hitungan setiap 1000 impression yang kita lakukan dengan nilai $ 0,50 ( 1 impression adalah 1x halaman dibuka dan setiap orang membuka halaman kita). Diantaranya: Profile anda di Yuwie di-view oleh teman, maka satu impression untuk anda, Yaitu pada - Halaman profile anda atau welcome page - Halaman blog anda - List teman-teman anda - Melihat semua comment anda - Melihat halaman photo anda -Melihat shared layouts anda.
Pembayaran
Jika earning/komisi anda sudah mencapai lebih dari US$ 5 maka anda bisa menariknya melalui Paypal. Kalau anda belum mempunyai Rekening bank Online Paypal, maka Anda bisa mendapatkannya gratis. Buka : www.majalahbisnisinternet.blogspot.com. Download link Paypal.
Trik-Tips mendapatkan Komisi Maksimal
Ketika anda bermain di FS atau Facebook, anda pasti ingin mempunyai teman banyak disana. Nah seperti itulah trik-tipsnya, jadi semuanya tergantung kemauan anda. Semakin banyak teman dan kasih komentar atau pesan, berarti semakin besar peluang anda mendapatkan komisi.
Anda tertarik? Daftarlah…!!!
Anda tertarik, daftarlah. Segera daftar berarti komisi semakin dekat datang dan anda semakin punya kesempatan banyak mendapatkan pundi-pundi dollar. Untuk mendaftar klik atau copy paste link dibawah ini
( http://r.yuwie.com/alansuhe/)
Ingat daftar dari link yang penulis berikan.Tutorial mendaftar dan mekanisme kerjanya, sama seperti halnya daftar pada website komunitas lainnya. Selamat bekerja dan Salam Sukses untuk Kita semua. Kalau masih kurang jelas bisa hubungi SMS ke :08179274963
(Sumber : Denik Satya)
Anda kenal jaringan pertemanan yang sering digandrungi banyak orang, seperti Friendster,mySpace, Facebook, Multiply dll. Pasti anda mengenalnya dan mungkin telah bertahun-tahun menjadi salah satu aktivitas anda ketika menggunakan internet. Sekarang bagaimana jika aktivitas pertemanan itu dibayar dengan beberapa dolar, ratusan dan bahkan ribuan dolar. Just Say Waww….bukan. Tidak ada yang menolak jika aktivitas paling mengasyikan ini memberikan komisi setiap membernya. Adalah yuwie, sebuah situs pertemanan seperti halnya situs pertemanan yang lain, dalam situs tersebut tidak jauh berbeda dengan model situs pertemanan yang lain. Hanya saja yuwie dalam TOS(Term of Service)nya yuwie menghimbau untuk memakai bahasa Inggris dalam melakukan aktivitas di dalamnya, tapi bisa juga dong bahasa indonesia. Seperti halnya kirim messages, comment dll. Bedanya dengan situs pertemanan yang lain adalah Yuwie membayar semua membernya dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh membernya. Dapet Temen, Dapet Dollar...!! he...buruan daftar segera : http://r.yuwie.com/alansuhe/
Bagaimana Sistem kerjanya
Ini bukan kerja, namun hoby yang dibayar. Sistemnya sama seperti halnya FS,Facebook dan lain –lain, yaitu kita log in, edite profile, ganti tema, lihat profile orang lain, add teman, di add orang lain, kirim komentar, dikirimi komentar, upload foto. Apapun itu kegiatan anda didalam Yuwie akan dihitung komisinya oleh Yuwie.
Kenapa Yuwie Membayar
Bagi yang sudah ikutan yuwie pasti tahu kenapa yuwie bisa membayar. Yaitu iklan dipasang pada setiap halaman yuwie. Hampir setiap kita mengklik halaman apapun diyuwie pasti didahului dengan tampilnya iklan yang menawarkan produk kepada kita dan diminta untuk mengisi form jika berkenan(tinggal skip saja jika anda tidak tertarik dan urusan selesai).
Jadi logikanya yuwie dibayar oleh pemasang iklan, dan kemudian yuwie bisa membayar membernya karena telah melihat halaman iklan tersebut pada setiap kali melakukan aktivitasnya.
Berapa Komisinya
Yuwie membayar membernya setiap kali buka halaman yaitu dengan hitungan setiap 1000 impression yang kita lakukan dengan nilai $ 0,50 ( 1 impression adalah 1x halaman dibuka dan setiap orang membuka halaman kita). Diantaranya: Profile anda di Yuwie di-view oleh teman, maka satu impression untuk anda, Yaitu pada - Halaman profile anda atau welcome page - Halaman blog anda - List teman-teman anda - Melihat semua comment anda - Melihat halaman photo anda -Melihat shared layouts anda.
Pembayaran
Jika earning/komisi anda sudah mencapai lebih dari US$ 5 maka anda bisa menariknya melalui Paypal. Kalau anda belum mempunyai Rekening bank Online Paypal, maka Anda bisa mendapatkannya gratis. Buka : www.majalahbisnisinternet.blogspot.com. Download link Paypal.
Trik-Tips mendapatkan Komisi Maksimal
Ketika anda bermain di FS atau Facebook, anda pasti ingin mempunyai teman banyak disana. Nah seperti itulah trik-tipsnya, jadi semuanya tergantung kemauan anda. Semakin banyak teman dan kasih komentar atau pesan, berarti semakin besar peluang anda mendapatkan komisi.
Anda tertarik? Daftarlah…!!!
Anda tertarik, daftarlah. Segera daftar berarti komisi semakin dekat datang dan anda semakin punya kesempatan banyak mendapatkan pundi-pundi dollar. Untuk mendaftar klik atau copy paste link dibawah ini
( http://r.yuwie.com/alansuhe/)
Ingat daftar dari link yang penulis berikan.Tutorial mendaftar dan mekanisme kerjanya, sama seperti halnya daftar pada website komunitas lainnya. Selamat bekerja dan Salam Sukses untuk Kita semua. Kalau masih kurang jelas bisa hubungi SMS ke :08179274963
(Sumber : Denik Satya)
MENULIS NOVEL FIKSI
Novel terbagi dua kategori. Yakni novel fiksi (rekaan) dan novel non fiksi (kenyataan). Untuk dapat menulis novel fiksi diperlukan daya khayal yang tinggi. Selain itu, diperlukan kemampuan merangkai kata sepanjang-panjangnya tetapi kata-kata harus menarik dan mengandung seni tinggi. Hal ini dapat ditemui dalam pembukaan atau Bab pertama novel Laskar Pelangi. Atau ini disebut juga kemampuan memperpanjang kata.
Seperti contoh : Saya menghadap ke timur. Maka kata itu harus dibuat semenarik mungkin untuk dibaca dan bernilai seni tinggi. Misalnya : "Aku terdiam. Seberkas sinar matahari menyinari tubuhku dengan cahaya terang benderang. Aku menatap tajam bola matahari yang tersenyum padaku. Airmataku menetes. Aku tak mampu jadi matahari yang terang benderang menyinari dunia. Aku duduk lalu tersungkur sujud".
Semudah itu menulis novel, tidak sulit, asalkan ada kemampuan untuk belajar dan praktek. Seorang novelis yang berhasil dalam merangkai kata seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Gol Gong, dan lain-lain. Mereka sangat pandai merangkai kata. Kata-kata yang mereka tulis sangat menarik dan bernilai seni tinggi, sehingga pembaca tidak bosan, sebab setiap kata-katanya dalam tulisan mengandung kekuatan. Pembaca dibuat penasaran dan terasa terus ditarik untuk membaca selanjutnya hingga tamat dan terkesan. Itulah novel yang berhasil. Contohlah mereka.
Sangat sering kita jumpai dalam novel fiksi sebuah kata atau lebih fatal lagi beberapa kata yang tidak menarik. Hal ini bisa diantisipasi penulis dengan cara mendelete kata-kata itu. Atau dapat dirubah kata itu menjadi kata-kata yang menarik dengan merangkai kata seperti contoh di atas. Nah, itulah teori sastra novel fiksi yakni Buat kata-kata yang menarik dan rangkailah dalam susunan kata-kata yang memiliki kekuatan dan nilai seni tinggi. Ayo kita bikin novel fiksi yang berhasil!!!!!!!
Seperti contoh : Saya menghadap ke timur. Maka kata itu harus dibuat semenarik mungkin untuk dibaca dan bernilai seni tinggi. Misalnya : "Aku terdiam. Seberkas sinar matahari menyinari tubuhku dengan cahaya terang benderang. Aku menatap tajam bola matahari yang tersenyum padaku. Airmataku menetes. Aku tak mampu jadi matahari yang terang benderang menyinari dunia. Aku duduk lalu tersungkur sujud".
Semudah itu menulis novel, tidak sulit, asalkan ada kemampuan untuk belajar dan praktek. Seorang novelis yang berhasil dalam merangkai kata seperti Andrea Hirata, Habiburrahman El Shirazy, Gol Gong, dan lain-lain. Mereka sangat pandai merangkai kata. Kata-kata yang mereka tulis sangat menarik dan bernilai seni tinggi, sehingga pembaca tidak bosan, sebab setiap kata-katanya dalam tulisan mengandung kekuatan. Pembaca dibuat penasaran dan terasa terus ditarik untuk membaca selanjutnya hingga tamat dan terkesan. Itulah novel yang berhasil. Contohlah mereka.
Sangat sering kita jumpai dalam novel fiksi sebuah kata atau lebih fatal lagi beberapa kata yang tidak menarik. Hal ini bisa diantisipasi penulis dengan cara mendelete kata-kata itu. Atau dapat dirubah kata itu menjadi kata-kata yang menarik dengan merangkai kata seperti contoh di atas. Nah, itulah teori sastra novel fiksi yakni Buat kata-kata yang menarik dan rangkailah dalam susunan kata-kata yang memiliki kekuatan dan nilai seni tinggi. Ayo kita bikin novel fiksi yang berhasil!!!!!!!
Sabtu, 21 Agustus 2010
GADIS MERAH JAMBU
Awan mendung bergulung-gulung. Ia hendak memakan matahari. Aku memaki awan dengan sumpah serapah yang sangat tajam. Aku hari ini harus bergegas menuju pasar. Iya, inilah profesi baruku semenjak aku memutuskan keluar kerja di perusahaan otomotif yang penuh korupsi, khianat, dan sebagainya. Aku lebih memilih Islam atau keimanan ini dibandingkan dengan harta dunia. Untuk memenuhi kebutuhan hidupku, aku mesti berusaha dan berjihad. Menafkahi diri sendiri sudah termasuk ibadah di hadapan Allah Swt. Dan lewat kenalan ibuku, akhirnya aku ditawarkan kerja dan mendapatkan pekerjaan baru yakni berjualan di pasar Tanjungsari. Kenalan baru ibuku itu seorang saudagar kaya raya pemilik Pasar Tanjungsari.
“Kau tidak berangkat ke pasar?” Tanya ibuku menepuk pundakku dan mengagetkanku.
“Saya lihat cuaca dulu!” tatapku keluar rumah sambil berpegang pada kusen jendela.
“Lan, bawa payung dan jas hujan, cuaca mendung pasti sebentar lagi turun hujan!” hardik ibuku dari arah belakang.
“Sebentar, Bu. Hujan ini mungkin turun beberapa jam lagi!” ucapku sambil terus menatap angkasa.
“Iya, tapi ibu was-was kamu sakit!”
“Iya, baiklah buat berjaga-jaga.”
Ibu bergegas pergi ke dapur. Ia mengambil payung dan jas.
“Nih, pakainya hati-hati! Ini payung milik Tetangga dan jas ini masih dalam kreditan.”
Aku meraih payung hitam dan jas warna biru itu dengan sigap.
“Bu, saya pergi dulu! Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Udara terasa sangat dingin. Apalagi aku hanya memakai kaos putih. Di kawasan Tanjungsari, tempatku berada memang masih banyak ditumbuhi rimbunan pohon. Udara sangat bersih, sejuk dan segar walaupun siang hari seperti waktu ini, berbeda jika di kota besar pasti sudah berkolaborasi udara kotor dan sumpek dengan jumlah kendaraan bermotor dan hiruk pikuk manusia. Aku berjalan dengan perlahan-lahan hingga di depanku tampaklah halaman depan pasar Tanjungsari. Bangunannya masih bangunan Belanda, dan tradisional. Becek tampak di jalanan menuju pasar.
“Aw!!!” aku dikagetkan dengan tangisan seorang perempuan.
“Copet!” teriak seorang ibu dengan sangat kaget sambil menunjuk pada pria yang berlari di depannya.
“Copet!” orang-orang berlarian mengejar pria berambut cepak.
“Ada apa bu?” tanyaku keheranan.
“Dia mencopet tasku!” ujar ibu itu sambil menangis terisak-isak.
Wah, perbuatan dosa timbul lagi di lingkungan yang baru aku singgahi. Aku semakin mengerti akan makna kehidupan bahwa di manapun kita kerja pasti ada ujian dan rintangan atau perbuatan salah yang tak sesuai dengan syariat Islam. Akan tetapi, kita jangan patah semangat untuk memperbaiki lingkungan. Jadilah kita garam yang ikut mewarnai lingkungan menjadi lebih baik. Aku teringat akan sabda Rasulullah Saw “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi lingkungan sesamanya”.
“Nih, bu, tas ibu!” seorang pemuda menyerahkan tas pada ibu itu sambil meringkus seorang pria hitam legam.
“Ini pencopetnya bu?” Tanya pria itu.
“Iya itu, betul.” Tunjuk ibu itu pada pria berkulit hitam legam itu.
“Wah, dasar copet!” masyarakat berkerumun.
“Huah!!!” seorang pria memukul pencopet hingga berdarah.
“Wah, ampun!!!” jerit pencopet menutupi mukanya dengan kedua tangannya.
“Anjing gelo siah maneh!” caci maki seorang pria berseragam SMA sambil menghujamkan bogem mentah hingga sang pencopet jatuh tersungkur.
“Hei sudah! Kalian jangan main hakim sendiri!” hardikku menahan pria lainnya yang mencoba memukul pencopet itu.
Sebuah mobil sedan polisi datang. Seorang polisi membawa pencopet itu dan memasukkannya ke dalam mobil sedan. Lampu sirine berkoar-koar. Lalu lintas padat merayap. Kendaraan bermotor yang berada di depan mobil sedan polisi itu meminggirkan diri.
Aku memasuki pasar dengan mengucapkan bismillah. Berjalan melewati lorong-lorong pasar. Di sebuah Blok B3 No.1 aku berhenti. Tampak seorang pria sedang menyembelih ayam-ayam sambil mengucapkan basmalah. Ayam yang belum mati itu dimasukkan ke dalam air panas hingga mati. Aku menduga, ayam itu mati karena bukan disembelih tapi karena air panas itu. Ayam itu menjadi bangkai. Dan memakan bangkai itu haram dalam ajaran Islam. Aku menggelengkan kepala sambil berjalan menuju ruko di sebelahnya.
Aku membuka gembok ruko itu.
Aku masuk ke dalam ruko. Kemudian mengeluarkan baskom yang berisi ikan segar. Tampak ikan gurame berlari-lari di dalam air di dalam baskom itu.
“Bu, ikannya bu?” tawarku pada seorang ibu yang melewati depan rukoku.
“Enggak.” Ibu itu menggelengkan kepala.
Aku duduk di sebuah kursi. Karena badanku lelah setelah mencangkul sawah, mataku terasa sedikit ngantuk. Beberapa saat, aku tertunduk. Seekor ikan gurame meluncur ke atas hingga terkapar-kapar di atas tanah. Aku memungutnya dan memasukkannya ke dalam baskom. Tiba-tiba badanku diseruduk oleh seseorang hingga terhempas ke dalam baskom.
Aku menatap pria yang menyerudukku. Wajah pria itu kusam hitam dan banyak coreng moreng di pipinya. Rambutnya panjang dan bau. Bajunya rombeng di bahu kiri dan kanan. Dengan giginya yang hitam ia tersenyum padaku. Ia mengatai-ngataiku dengan kata-kata yang tidak jelas. Ia tampak menangis lalu sedetik kemudian ceria kembali. Dasar orang gila! Umpatku.
“Kang tidak apa-apa?” Tanya pria di samping rukoku yang berjualan daging ayam.
“Tidak apa-apa.”
“Hati-hati! Dia itu orang gila di pasar ini, suka ganggu orang di pasar.”
“Iya dasar orang gila.”
“Akang baru dagang di sini!?”
“Iya.”
“Saya Mang Maman pedagang daging ayam di pasar ini!Saya juga baru dagang di pasar ini seminggu yang lalu”
“Oh, nama saya Alan.” Ucapku sambil menjabat tangannya erat-erat.
Seorang ibu menghampiri kami secara tiba-tiba.
“Kok, daging ayamnya berair?” protes seorang ibu pada Mang Maman.
“Maksud ibu apa?” tanyaku heran.
“Ini waktu kemarin saya beli daging ayam, ayamnya banyak airnya jadi saya rugi, berat bukan karena daging tapi air!”
“Apa?”
“Mang jangan sekali-kali lagi ya?”
“Memang daging ayamnya dari Jakarta seperti itu.”
“Ah, saya kapok beli daging ayam di sini!” protes ibu itu sambil meninggalkan kami.
“Mang kok tega-teganya membuat pembeli kecewa?” tanyaku pada Mang Maman.
“Bagaimana lagi Kang kalau tidak begini tidak akan dapat untung besar.”
“Ingatlah Nabi Muhammad saw tatkala melakukan perniagaan ia berlaku jujur, empati dan sopan pada pembeli. Tak ada kecurangan dalam perniagaan.”
“Oh, iya ya.”
“Aku juga tahu Mang Maman mengisi air ke dalam daging kan agar berat timbangan?”
Mang Maman menyeringai tampak gigi gingsul.
“Iya saya mengaku salah. Kalau begitu aku mau seperti rasulullah menjadi pedagang yang benar-benar dipercaya pembelinya. Rasulullah saw dijuluki Al-Amien. Para pembeli mempercayai setiap perkataannya.”
“Iya bagus contohlah rasulullah, suri tauladan kita. Sebab bagi kita pedagang yang penting nama baik. Setelah itu rezeki pasti menyusul. Pakai logika saja! Sebab kalau berbuat curang pasti pembeli kapok membeli lagi ke kita. Iya kan?”
“Betul juga,kang.” Ucap Mang Maman mengerti.
“Memang berat melakukan perbuatan jujur itu karena kita tidak terbiasa, tapi kalau kita terbiasa maka lama-kelamaan akan terasa ringan.”
“Huh.” Mang Maman menarik napas dalam-dalam.
“Di pasar ini sudah biasa sih, mengisi daging ayam dengan air biar berat.”
“Iya itu dosa. Ini salah satu kecurangan dalam berdagang yang dilarang keras oleh Rasulullah. Rasulullah Saw melarang para pedagang mengurangi timbangan atau takaran.”
Tampaklah Mang Maman mengeluarkan air di dalam daging ayam. Mengalir setetes demi setetes air dalam tubuh daging ayam itu.
“Selain itu mang, kalau sudah menyembelih ayam jangan langsung dimasukkan ke dalam air panas, kan ayamnya belum mati, nanti matinya karena air panas dan itu jadi bangkai. Haram untuk dimakan.” Tandasku melihat setumpuk ayam di dalam wadah air panas.
“Oh iya, Mang Maman tidak tahu cara menyembelih ayam yang baik dan benar. Kalau memang begitu saya daku akan membiarkan ayam yang disembelih itu mati bukan oleh air panas.”
“Iya begitu. Tahu nggak Mang? Coba datang saja ke MUI atau Departemen Agama Bidang Urusan Agama Islam tentang pelatihan cara menyembelih hewan yang baik dan benar di pasar. Mereka kan punya wewenang, biar para pedagang di sini menyembelih ayam sesuai syariat Islam.”
“Iya nanti sama Daku usulkan ke koperasi pasar ini. Sebelumnya terimakasih atas penerangannya.”
“Sama-sama,Mang.”
Waktu terus berjalan. Akan tetapi, belum ada satu pembeli yang membeli daganganku, ikan gurame. Hari ini terasa berat jika tidak ada pendapatan yang aku raih. Karena aku mesti membayar kontrakan ini perhari sebesar seribu rupiah dan memberikan pendapatanku untuk keluargaku. Tetapi aku mesti bertahan. Berdagang kerjanya santai menunggu, tidak seperti kerja di perusahaan yang mesti dikejar target laksana dikejar-kejar waktu.
Tampaklah di seberang rukoku, seorang gadis berpakaian merah jambu sedang menumpuk-numpuk barang dagangannya, jagung. Jagung dalam karung itu, ia tumpuk dengan posisi jagung basah ia tempatkan di atas. Ia melirikku dan tersenyum kepadaku. Ia tampak cantik dengan kerudung merah jambunya.
“Heh, ada juga pedagang yang jujur di sini!” ucapku dalam hati.
Aku menghampiri wanita berkerudung merah jambu itu.“Assalamu’alaikum.” salamku menyapa wanita yang wajahnya ayu dan menyiratkan ketenangan.
“Waalaikumsalam. Masuk, kang! Baru ya di sini?” sambut wanita cantik itu.
“Iya.”
“Saya lihat ukhti sedang menjajakan jagung. Kenapa jagung basah ditumpuk di atas?”tanyaku heran.
“Saya tidak mau menipu konsumen. Kalau jagung basah harganya sangat murah dibandingkan jagung kering. Maka saya tumpuk di atas biar konsumen tahu ini jagung basah. Sebab saya akan mengatakan kalau jagung basah maka basah.”
“Alhamdulillah ada juga di pasar ini yang pedagang jujur.”
“Ah” wanita cantik itu tersipu malu.
“Memang ukhti seorang pedagang jujur yang dirahmati Allah.” Pujiku.
“Tuh ada yang beli!” tunjuk wanita merah jambu itu pada seorang wanita yang berdiri di depan rukoku.
“Oh. Silahkan bu, ikannya masih segar!”
“Sekilonya berapa?” Tanya ibu itu yang menggendong anak kecil.
“Sepuluh ribu satu kilo!”
“Beli sekilo!”
Aku mengambil ikan-ikan gurame itu dan memasukkan ke dalam kantung plastik.
“Nih, bu!”
“Terimakasih.” Ucapku mengambil lembaran kertas dari tangan si ibu itu.
“Bu cepat pulang!” anak yang digendong si ibu itu menangis.
“Sebentar! Ibu lagi beli buat makan kamu!” ujar ibu itu sambil meninggalkanku.
Aku duduk di depan rukoku. Tampaklah jam di ruko Mang Maman menunjukkan pukul lima sore. Aku pun bergegas memasukkan wadah ikan ke dalam ruko dan mengunci ruko itu.
“Oh sudah pulang lagi?” Tanya wanita merah jambu itu.
“Iya nih, mau persiapan buka puasa. Sudah cukup dapat rezeki walau sedikit asal halal dan dapat membayar kontrakan ruko.”
“Hati-hati.”
“Assalamu’alaikum.”salamku.
“Wa’alaikumsalam.”
Aku bergegas berjalan menuju arah rumah. Tampak Mang Maman sedang meladeni pembelinya yang banyak. Ia terlihat sibuk. Jalanan becek ini mesti membuatku berjalan secara perlahan-lahan. Jika tidak hati-hati bisa terpeleset.
Memasuki gerbang rumah tampak sandal yang belum aku kenal. Mungkin ada tamu dalam rumahku.
“Assalamulaikum” aku membuka pintu.
“Wa’alaikumsalam.” Ucap ibuku dan perempuan kenalan ibu.
“Lan bagaimana jualannya?” Tanya kenalan ibu itu yang bernama Bu Laela.
“Ah, Alhamdulillah, walau dapat dikit. Cukup untuk bayar kontrakan sehari!” aku menyeringai tersenyum.
“Oh.”
“Begini Lan, ibu Laela ini sama ibu tadi sudah menjelaskan tentang keadaan atau kondisi pasar. Katanya pasar Tanjungsari banyak sekali terjadi penyalahgunaan dalam berdagang. Dan itu sudah ditegur oleh pemerintahan Sumedang. Karena itu menghambat pasar Tanjungsari menjadi kepercayaan masyarakat dan pemerintah.”
“Maka saya berharap, Alan dapat berkontribusi terhadap perubahan yang lebih baik. Saya ingin pasar Tanjungsari ramai dikunjungi masyarakat.” Terang ibu Laela.
“Saya hanya berusaha.” Ucapku kalem.
“Iya kalau pasar Tanjungsari banyak penipuan para pedagang masyarakat akan meninggalkan pasar Tanjungsari dan beralih ke pasar lain. Ini akan merugikan sendiri kaum pedagang di sana!” timpal ibu.
“Jadi solusinya bagaimana?” Tanya ibu Laela.
“Kita harus melakukan pendekatan pada para pedagang, dan mengadakan beberapa kegiatan tentang pendekatan nilai-nilai kejujuran dalam berdagang. Dan kita mengajak pedagang lainnya untuk bergabung mendakwahkan nilai-nilai kejujuran dalam berdagang seperti dicontohkan oleh Rasulullah.” Jawabku.
“Ibu punya usul bagaimana kalau kita menyebarkan bulletin atau selebaran tentang cara berdagang ala Rasulullah. Jadi kita tidak usah rutin mendekati para pedagang.”
“Nah itu salah satu program kegiatan yang mesti ibu Laela jalankan. Selain itu kita bisa mengadakan pengajian rutin bagi para pedagang pasar Tanjungsari dan bakti sosial ke masyarakat kurang mampu agar mampu menarik masyarakat berkunjung ke Pasar Tanjungsari.”
Suasana hening beberapa saat.
“Betah tidak jualan di pasar?” Tanya Bu Laela.
“Betah, apalagi ada seorang ukhti yang berjilbab merah jambu di seberang rukoku.”
“Dia itu dari kalangan santri.”
“Tapi bu saya sungguh terpikat akan pesona gadis baju merah jambu yang berada di seberang rukoku. Siapa itu bu?”
“Oh, itu namanya Rani, dia itu anaknya kiyai pemilik Pesantren Al-Falah.”
“Kamu naksir ya?”
“Iya, he.”
“Nanti saya bantu, kamu nanti saya jodohkan sama dia.” Ucap Bu Laela.
“Eh, melantur kemana-mana! Jadi bagaimana pasar Tanjungsari?”
“Satu minggu dari hari ini, kita mesti mengadakan pengajian!” ucap ibu.
“Iya, kalau masalah biaya bisa dari saya!” ucap Ibu Laela.
“Wah, sudah mau buka puasa nih! Saya pulang dulu!”
“Buka puasa saja di sini Bu!” ajakku.
“Oh, saya ada janji buka puasa bersama Bupati Sumedang! Asalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Satu minggu kemudian. Suasana rumahku dipenuhi hiruk pikuk manusia. Mereka adalah para pedagang di pasar Tanjungsari. Hanya ada satu pedagang pasar yang tak kulihat yaitu gadis merah jambu itu. Ia tak tampak terlihat. Ia kemana, mungkin ada urusan penting di pasar hingga ia tak menghadiri undangan pengajian ini.
“Kita langsug saja ke acara selanjutnya!”
“Sekarang ada pidato dari Ustadz Alan!Silahkan!”
“Assalamualaikum. Saya ingin mengucapkan terimakasih atas kehadiran para pedagang Tanjungsari di sini. Saya akan membawakan materi tentang mencintai Allah dan Rasulullah saw. Nah, cinta dalam islam ini tidak mesti cinta ke lawan jenis. Cinta dalam ajaran Islam terbagi ke dalam tiga tingkatan, yakni Cinta kepada Allah Swt. Cinta kepada Allah Swt adalah dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menghindarkan larangan-larangan-Nya. Yang kedua, cinta kepada Rasululah saw. Bukti cinta kita kepada Rasulullah saw adalah diimplementasikan dengan cara mengikuti tuntunan dan contoh teladan kehidupan sehari-hari dari Rasulullah Saw. Kita kan semuanya pedagang maka terapkan aturan berdagang seperti Rasulullah saw dalam cara berdagang seperti jujur, tidak mengurangi timbangan, tidak membual, tidak menipu, tidak menimbun, tidak korupsi, tidak menyimpan barang rusak di bawah tumpukan, dan lain-lain. Cinta kepada Rasulullah Saw adalah cinta tingkatan kedua setelah cinta kepada Allah Swt.”
“Nah, sekarang siapa yang cinta Rasulullah?” tanyaku.
Semua pedagang mengacungkan jari.
“Maka terapkanlah cara berdagang seperti Rasulullah. Karena kalau kita menipu pembeli apalah artinya kita untung sedang yang lain rugi, keuntungan bagi kita adalah dapat membuat orang lain senang dan adil serta nama baik kita semakin terjaga baik.”
Para pedagang menganggukkan kepala.
“Nah sekarang bukti kita mencintai Rasulullah Saw, maka kita melantunkan shalawat nabi. Ayo!!” ajakku.
“Sholatullah salamullah ala Thoha Rasulillah!”
Sebuah SMS pendek masuk ke dalam handphone ku. Sebaris singkat tapi membuatku sangat terkejut. Bunyinya : TELAH TERJADI KEBAKARAN DI PASAR TANJUNGSARI. YANG MENJADI KORBAN TEWAS ADALAH SEORANG GADIS BERNAMA RANI.
“Sholatullah salamullah ala Thoha Rasulillah!”gemuruh suara para pedagang di rumahku. Sedangkan aku menitiskan airmata atas kehilangan gadis merah jambu itu. Gadis merah jambu itu lebih mencintai Allah dan Rasulullah Saw. Gadis itu memegang janjinya menunaikan perniagaan sesuai contoh Rasulullah saw. Ia telah bertemu Rasulullah saw.
“Betapa indahnya hidup ini andai dapat kutatap wajahmu. Moga mengalir keberkatan dalam hidupmu untuk mengikuti jejak rasulmu. Ya Rasulullah, Ya Habiballoh, tak pernah kutatap wajahmu. Ya Rasulullah Ya Habiballoh aku rindu padamu.”
Langganan:
Entri (Atom)
